Lakon INDONESIA by Teater Zat

Kamis lalu merupakan hari dimana gue harus latihan bengsas. Hari itu bertepatan pada pementasan Teater Zat di aula S. Gue pengen bangeeet nonton mereka. Secara tadinya gue diberi kesempatan untuk ikut proses di sana. Namun dikarenakan banyak faktor yang membuat gue tidak sanggup untuk bertahan dalam proses di sana, jadinya gue nggak ikut tampil.

Iya, dulu gue ikutan Teater Zat. Tapi gue nggak sanggup ikutan dua teater komunitas. Karena dua-duanya sama-sama sibuk. Jadi terpaksa gue harus memilih salah satu komunitas saja.

Lanjut. Untuk angkatan 2013 sedang dalam proses produksi pementasan. Mulai dari manajemen produksi sampai aktor semuanya yang pegang angkatan 2013, dengan dimentor oleh angkatan 2009. Jadi, saat itu gue kepengen nonton, tapi gue harus fokus juga dalam proses produksi ini. Namun ternyata semua anak Bengsas pada mau nonton Zat. Jadinya ya setelah olah tubuh dan menunggu hujan reda, kami semua berjalan menuju aula S bareng-bareng.

Sampai sana, tak disangka banyak banget yang nonton. Tidak hanya dari jurusan sastra Indonesia, dari jurusan lain pun ada yang nonton. Aula S penuh sampai ada yang nontonnya berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Pak RT dan para asistennya mengunjungi rumah Eman

Gimana pertunjukkannya?


Pertunjukkan dimulai. Namun gue tidak begitu menikmati pertunjukkan, karena tujuan gue tidak hanya menonton, tetapi belajar. Sepanjang pertunjukkan gue diskusi sama Dayat. Apa-apa saja yang harus dikoreksi selama pertunjukkan. Dari lighting, properti, bloking, sampai make up. Karena kebetulan si Dayat ini di manajemen produksi dia bagian stage manager alias tata panggung, dan gue bagian artistik. Jadi yang diperhatiin ya ga jauh-jauh dari itu. Kemungkinan juga pementasan angkatan 2013 bakal dipertunjukkan di aula S juga. Aula S merupakan panggung yang kecil, maka gue harus memperhatikan ukuran yang tepat untuk properti yang akan digunakan.

Gue belum pantas untuk mengkritik mereka karena gue masih awam dalam dunia teater. Tapi, sebagai penonton awam, gue cenderung tidak nyaman karena selama fade out dan proses pembuatan setting oleh black man bisa terlihat. Membuat unsur kejutannya gagal. Setting bisa terlihat selama fade out. Kemudian, terkadang saat akan fade out, bagian lighting seperti ragu-ragu, membuat aktor juga ragu-ragu untuk pergi dari panggung.  Permainan warna lampu juga kurang, membuat pembawaan emosi dari cerita juga kurang terbangun. Make up ada yang ketebelan dan ada yang kurang tebal. Vokal dari beberapa aktor juga sangat kurang. Membuat para penonton malas mendengar hingga pada akhirnya mereka mengobrol sendiri-sendiri, dan membuat scene terlihat membosankan. Bagian musik terkadang mengganggu vokal aktor. Kadang juga tidak nyambung, kurang terbawa emosinya, dan kurang bervariasi. Hanya itu yang gue perhatikan selama pementasan berlangsung. Tapi ingat, gue orang awam yang ingin mencoba berkomentar. Kali aja emang bener tapi kalo salah mohon dimaafkan heheh.

Eman melapor ke polisi karena ia diusir oleh warga

Eman di-bully di penjara

Eman diselamatkan oleh pak RT dan para asistennya

konferensi pers Eman di rumah pak RT

Overall penampilannya bagus dan menarik, terutama di scene bagian dua pria yang sedang buang air besar di jamban. Vokal sangat bagus dan menghibur. Logat betawi terlihat natural. Wajah tak berekspresi namun penuh makna. Rencananya, pementasan ini akan ditampilkan di beberapa SMA di Jabodetabek. Jika ditanya pantas atau tidak untuk ditampilkan di SMA, gue akan mengatakan ini sudah pantas. Namun akan lebih baik jika diperbaiki sedikit bagian-bagian yang kurang nyaman.

Itu saja review dari gue. Oh iya, tadinya gue itu bagian di scene jadi mahasiswa gituu. Tapi nggak jadi heuheu. Namun sepertinya mereka tampil lebih baik tanpa gue. Tampang gue lempeng banget soalnya selama latihan hahahah.

Foto tidak terlalu bagus karena gue susah ngambil gambarnya. Gue dapet tempat duduk agak terbelakang sehingga tertutupi oleh penonton di depan gue. HufTban9eDh :p

Post a Comment

Instagram

magellanictivity. Theme by STS.