Pagi hari di Kalianda. Kami disuguhi nasi uduk beserta teh dan kopi hangat oleh sang pemilik homestay. Sumpah si ibu pemilik Homestaynya baiiiiik banget! *cium peluk mwah mwah*
Seperti yang gue ceritain sebelumnya, kemaren malem itu gelap banget gara-gara mati listrik. Ga bisa liat apa-apa, gue bener-bener berasa lagi di hutan Mirkwood. Tapi si satpam yang di pelabuhan tadi bilang kalo Kalianda itu kota. Ga mungkin kota, pasti ini desa!
Tapi pas gue keluar dari rumah ini, ternyata pikiran gue salah bro sis.
Yes. This is the city, guys. A little city.
Dan, ternyata di sekitar homestay pemandangannya keren abis. Dari halaman homestay, kalo lo ngeliat ke arah timur, terdapat laut biru, dan kalau ngeliat ke arah barat laut, ada gunung yang hijau menjulang. Ga nyangka pemandangannya sebagus ini. Kemaren malem gue ga liat apa-apa. Ga liat ada pemandangan yang super keren gini. Mana udaranya sejuk banget wuaaah senang! :D
Terus pagi-pagi gue pengen nyemil-nyemil sesuatu gitu. Akhirnya gue sama nyokap dan bokap ke luar homestay dan lihat-lihat ke sekeliling kota Kalianda, dan kami menemukan sebuah Alfamart dan Indomart dimana-mana. Jadi gue bisa minta beliin ini dan itu buat nyemil-nyemil.
Di bawah ini merupakan suasana di dalem homestay. Tempatya nyamaaaan banget. Di sini ada 4 kamar, dua di antaranya ber-AC yang berada di lantai bawah. Harga per kamar yang ber-AC dan yang nggak ber-AC tentunya berbeda, namun ga terlalu banyak. Lagipula, walau tanpa AC udaranya juga tetep sejuk, kok! Karena lokasinya dekat dengan gunung. Tapi mungkin akan terasa panasnya di siang hari, ya. Kayak kampung gue di Cirebon yang lokasinya berada di antara gunung dan pantai.
Gimana suasana homestay-nya?
Udah kelar liat-liat dan leha-leha, kami pun langsung berangkat menuju pelabuhan untuk pulang ke Jakarta. Sebentar banget, memang. Karena memang tujuan awalnya bukan mau muter-muterin Kalianda, melainkan hanya pengen-nyobain-kapal-feri.
Berhubung gue udah bosen ngeliat laut, gue pun memilih duduk di dalem kapal. Udah enek liat warna biru di laut, karena kemaren gue kelamaan nyium aroma laut seharian haha. Dan ternyata, kapalnya agak beda dari kapal sebelumnya. Kapal yang ini asik banget. Di kapal ini disediain ruangan ber-AC banyaaak banget, bisa buat sekedar lesehan atau bahkan bisa tidur-tiduran. Kalau mau pakai bantal, dikenakan biaya tambahan sekitar Rp 8.000 per bantal. Lumayan buat istirahat dan sekedar nikmatin suasana kapal yang diguncang-guncang oleh ombak-ombak kecil.
Lanjut baca The Hobbit!
Suasananya kayak di Jepang gak, sih?
Yah, beginilah kalau naik kapal. Masuknya ngantri, ke luarnya juga ngantri. Tapi antrian kali ini tidak se-sesak ketika mendarat di pelabuhan sebelumnya.
Berita buruknya, gue harus naik kereta kelas ekonomi. Bukan bermaksud sombong, tapi gue paling kesel sama smokers. As so you know, di kereta ekonomi itu kan ga ada AC, dan ga ada tulisan "dilarang merokok", jadi orang bebas-bebas aja ngerokok di dalem kereta. Ga ada oksigen sama sekali, bener-bener jadi perokok pasif yang aktif. Andai aja orang-orangnya tertib aturan, dan ga ada yang ngerokok di dalem kereta, ya gue sih fine-fine aja ya. Kalo pada bilang "kalo gamau menghirup asap rokok ya jangan naik kereta ekonomi", hmm maaf, ya, ini bukan kemauan gue. Tapi kemauan bokap gue. Lagipula, belajar menghargai orang juga dong. Duh kenapa gue jadi marah-marah -__-
Gara-gara itu, sampe rumah gue langsung sakit demam, mulut pait, dan ga napsu makan. Gah..
Ini dia, tips-tips saat perjalanan di tempat yang budayanya berbeda:
- Hargai budaya orang lain, jangan samakan budaya kita dengan budaya lain.
- Jalan dengan percaya diri walau lo tau kalo lo lagi nyasar.
- Jangan panik, tetap tenang dan berzikir.
- Jangan berekspektasi berlebihan
- Jangan malu bertanya!
- Anggap daerah asing yang kalian lewati merupakan daerah yang sudah pernah kalian lewati sebelumnya.
- Mensugesti diri dengan hal-hal positif, biar keberuntungan selalu ada di pihak kalian!
Selamat jalan-jalan! :D
Post a Comment