"Jangan lupain gue yaaa kita harus tetep sahabatan walau beda sekolah!"
"Kalo ketemu jangan lupa sapa gue yaaa jangan sombong-sombong."
Itulah kalimat-kalimat yang sering gue denger di detik-detik perpisahan dengan sahabat dekat karena kelulusan sekolah. Kalimat-kalimat itu gue pegang terus dalem hati, ga pernah lupa, karena hanya satu alasan: gue menyayangi dan menghargai persahabatan. Tetapi, sayangnya hanya gue yang menyimpan kalimat-kalimat tersebut.
Ialah pada masa SMP, masa-masa alay banget deh ya emang. Tapi, masa itu gue baru banget mengenal istilah persahabatan. Waktu SD sih udah pernah denger, hanya saja masih terlalu polos untuk mengerti. Masa SMP gue dipertemukan dengan orang-orang yang ga gue sangka menjadi orang yang terdekat, bagaikan saudari sendiri.
Kami berbagi berbagai hal. Kami bercerita. Dari tawa hingga air mata. Umum dan pribadi. Segalanya.
Yah kalo dipikir-pikir, persis banget deh sama geng AADC. Gue yang jadi Dian Sastro dong tetep.
Dian Sastro
Kelulusan memisahkan kami. Gue terdaftar di salah satu SMA di Jakarta Pusat. SMA impian gue karena nyokap dulu juga lulusan situ. Seneng banget. Tapi, dari lulusan SMP gue, yang masuk SMA itu hanya gue dan Hadisti. Technically, gue sama Hadisti waktu SMP ga begitu dekat, walau tiga tahun sekelas terus. Karena dia selalu duduk paling depan, sedangkan gue duduk di belakang mulu gegara badan gue gede gitu deh huft. Tapi kami saling mengenal dengan cukup baik kok wink wink wink.
Tetapi ketika SMA gue ama Hadisti beda kelas jauh, ujung ke ujung. Dan gue mendapatkan kelas yang isinya anak-anak yang serba berkecukupan. Jujur aja gue berasa culture shock melihat teman-teman sekelas gue yang high class abis. Mereka juga pinter-pinter banget. Gue selalu lemah untuk persoalan mata pelajaran. Gue minder. Gue sendirian di sana. Gue sulit beradaptasi.
Gue bertemu dengan Novi. Satu-satunya teman yang ada di SMA gue saat itu. Itupun karena dia pindah tempat duduk di sebelah gue. Tadinya mah, gue selama ospek sendirian duduknya haha.
Gue pun mulai merindukan teman-teman SMP gue yang dulu udah gue anggap sebagai saudari. Gue mulai menghubungi, tetapi, entah mengapa, jawabannya selalu sekedar saja, Tidak ada antusias ataupun kebahagiaan. Gue pun tidak merasakan kerinduan dari mereka. Tetapi, mereka tetap menjalani pertemanan layaknya ketika gue masih bersama mereka. Gue gatau apa yang terjadi. Gue seperti diabaikan.
Semakin hari, bulan, tahun, mereka benar-benar hilang. Ucapan spesial di hari ulang tahun gue dari mereka tidak lagi terdengar. Gue berusaha untuk tetap kembali, mendekati, dan berharap bisa bersama lagi. Tetapi tidak. Gue sudah terlanjur malu untuk meminta kembali dekat. Semakin merasa seperti orang lain.
Kemudian kondisi sosial di SMA gue semakin buruk. Tidak memiliki banyak teman. Maksud gue, teman dekat. Teman yang dirindukan. Teman yang bisa diajak bercerita setiap pagi sebelum memulai kegiatan belajar. Gue hanya berteman dan bercerita kepada Novi saat itu. Tetapi, di pikiran gue, gue adalah sahabat mereka yang bikin gue berasa jadi Dian Sastro di AADC..
Nilai-nilai gue makin jelek. Wali kelas bilang ke nyokap kalo gue calon anak gak naik kelas ketika pembagian nilai UTS. Diomelin orang tua. Di-bully oleh beberapa teman sekelas. Tidak secara langsung, memang. Tapi gue bisa ngerasain sendiri apa yang terjadi di belakang gue.
Gue mulai membangun pertemanan lagi. Novi yang kebetulan selalu ibadah bareng sama salah seorang teman sekelas bernama Valni, dan Valni duduk sebangku dengan Riska. Jadilah gue nambah temen main dan cerita di kelas. Pertemanan terus bertambah dan bertambah. Gue mulai bisa beradaptasi, walau untuk soal nilai mata pelajaran di kelas, tidak naik begitu baik. Naik, sih, tapi yaudahlah gitu. Temen gue pun makin banyak ketika gue ikutan eskul-eskul seperti paskibra dan seni rupa. Kami menjalani pertemanan seperti biasa, tetapi, gue masih, masih, masih memikirkan persahabatan lama gue itu. Masih pengen bisa bareng-bareng lagi.
Dari kiri: Valni, Novi, dan Riska
Memasuki kenaikan kelas, gue merasakan hal yang sangat berbeda: banyak teman-teman yang bersikap menyenangkan di kelas yang baru. Tidak ada yang mencurigakan, walau masih ada yang menyebalkan. Saat kelas dua ini gue bertemu dengan Syifa melalui Erkan. Lagi, gue masih menginginkan persahabatan gue yang lama. Bahkan gue suka nangis gak jelas kalo inget-inget mereka. Sampai pada akhirnya gue bercerita tentang keluhan gue ini kepada Syifa, dia bilang
"Yaudah, Ti, tenang aja. Kan masih ada gue, Erkan, Hadisti, dan lain-lainnya."
Gue cerita ke Erkan, dia juga mengatakan hal yang kurang lebih sama.
"Yaudaah, Ti, kan ada gue, Syifa, Mirra, dan yang lainnya. Lu fokus aja sama impian-impian lu. Mulai menulis, terus kalo bukunya terbit, gue pengen jadi orang pertama yang baca buku lu. Terus gue pamerin ke anak gue nanti hehe". [THEN I CRIED A LOT. LITERALLY.]
Iya, dulu gue kepengen jadi penulis.
Dua orang itu, menampar gue berkali-kali. Gue istigfar. Gue menyadari akan ketololan gue yang gak hilang-hilang. Karena gue tidak menyadari kehadiran mereka. Karena gue tidak menyadari keberadaan mereka. Mereka yang selalu ada buat gue. Selalu mau dengerin keluhan gue yang mengharapkan bisa didengerin keluhannya sama orang yang belum tentu masih peduli. Ternyata gue tidak menghargai persahabatan. Gue tidak ingat dan tidak melihat hal yang terdekat.
NOT-SO-FULL TEAM YEA
with Syifa
Ini waktu kejutan ulangtahun gue yang ke-17. Gue dikerjain ampe tolol ama mereka hahaha..
Aneh emang, kenapa juga gue masih mengharapkan persahabatan yang lama, toh yang baru orang-orangnya lebih seru. Nggak memandang kita gaulnya kemana dan ngapain. Walau gue udah gak jadi Dian Sastro lagi, setidaknya sekarang gue udah jadi Scarlett Johanson.
Dari situ gue belajar untuk selalu menghargai orang-orang di sekitar gue. Dengan tidak terpaku untuk berteman dengan orang tertentu saja, dengan menghargai kehadiran siapapun di kehidupan gue. Walau kini masing-masing kami mungkin telah memliki visi dan misi yang berbeda, tapi kita tetap bisa disatukan dengan guyonan-guyonan lama, yang membuat kami selalu saling rindu.
.
Dan, alhamdulillah, gue masih sering berkomunikasi dengan teman-teman SMA yang super seru. Maaf ya kalo gue susah diajak jalan. Mudah-mudahan ada waktu kita jalannya FULL TEAM YEAH hihihi.
Pertemanan selama perkuliahan? Tetep rock and roll yeah~
Kenapa sih kok gue tumben melankolis banget? Iya nih. Gara-gara ngobrol ama Malika pas Rabu sore. Makasih yah, Mal, untuk dialognya hehehe. Love you.
WOFFYOU, MY DARTO <3<3<3
ReplyDeleteWAFFUTU, MY DANAN6 <333
Deletebaper bacanya.. wkwk jadi kangen masa SMA.. kangen main bareng uti :')
ReplyDeleteDISTIIIIIIII!!!!!! KANGEEEEEN AAAAA. MAU MAIN SAMA SEMUANYAAA HUHUHU T___T Maapin guenya lagi baper waktu nulis ini huahahahaha xD
DeleteHihihi... ayo maaiiin!!! Uti kapan libur? Huehehe
ReplyDeleteGue nggak ada libur nihh. Minggu depan terakhir UAS dan langsung siap2 KKN sebulan :'''''((((
Delete