Ulasan Novel Namaku Teweraut

Hello everyone! Whaaatzup?~

Oke alay.

Di semester 4 ini gue benar-benar diharuskan untuk banyak baca. Kira-kira 14 buku yang kemudian akan dianalisis dan menjadi bahan UAS. Keliatannya sih nyebelin, tapi setelahnya gue melihat sisi positifnya, gue jadi banyak baca, dan meningkat kualitas kebacaan gue hehehe. Soalnya buku yang harus dibaca ga main-main, kadang bukunya juga jarang ditemuin hahaha. Terus juga, jurusan mana lagi sih yang tugasnya baca novel coba? Tapi bedanya ya, kita ga hanya baca, melainkan membaca kritis, mengkritisi novel yang kita baca menurut teori yang udah dipelajari. Nah, mungkin yang musingin itu ngertiin teorinya yaa hahaha. Tapi gak apa-apa, biar makin pinter! Hihihi.

Udah lama nih ya gue ga bahas soal buku lagi. Pas gue liat-liat di label books, bener-bener masih dikit dan isinya kurang penting yaaaa hahaha. Kali ini gue bakal bahas buku lagi yaaay mudah-mudahan bisa nambah ilmu buat temen-temen yah!



Nah, udah ada yang pernah baca novel Namaku Teweraut? Kalo belum, baca dulu yuk sinopsisnya di blog ini [heaven with love] :)

(maap fotonya pecah gini gue juga nggak tau kenapa bisa begini, nanti gue foto sendiri aja deh bukunya hahaha).


Bukunya minjem di perpus kampus gue!

Berikut identitas novelnya.

judul: Namaku Teweraut: Sebuah Roman Antropologi dari Rimba-Rawa Asmat, Papua

pengarang: Ani Sekarningsih
penerbit: Yayasan Obor
tempat terbit: Jakarta
tahun terbit: 2000
jumlah halaman: 298
ISBN: 9794613509

Gue dapetin novel ini di perpustakaan kampus yang alhamdulillah stoknya banyak hahah jadi ga perlu dek-dekan karena takut keabisan dipinjem orang. Sebelum masuk ke cerita, kamu bakal menemukan kamus kecil yang isinya istilah-istilah Papua yang pastinya nggak familiar ama kita-kita. Ketika melihat halaman ini, gue udah meyakini bakal bolak-balik ke halaman ini karena istilah-istilah ini bakal sering muncul di dalam cerita. Biar kita makin deket dan mengenal lebih dalam sama Papua, khususnya suku Asmat :)



Perlu diingat ya, buku ini terbitnya tahun 2000, jadi mungkin penggambarannya lebih kepada kondisi sosial pada tahun itu :)


Pas awal-awal kamu baca, kamu langsung disuguhin deskripsi suasana alam dan masyarakat suku Asmat di Papua. Pendeskripsian ini bagus banget ya, bikin gue langsung ikutan kebawa jatuh cinta sama alam Papua yang masih banyak yang 'perawan' karena penduduknya yang menyucikan lingkungannya. Tapiiiii saking banyaknya pendeskripsian alam (dan didesak deadline tugas hahaha) gue jadi agak bosen gituh bacanyah karena nggak ngaruh sama jalan ceritanya hehe. Soalnya, pendeskripsiannya bisa sampe dua paragraf atau lebih.

Baru bab 1, gue udah nemuin sindiran polos dari Teweraut tentang rasis yang melekat di masyarakat Indonesia. Ketika seorang keturunan Jawa bernama Mama Rin datang ke tanah Papua untuk meneliti, Teweraut mengatakan bahwa ia orang Indonesia, yang dibedakan oleh kulitnya yang cerah dan rambutnya yang lurus dan hitam. Gue sedihhh dan sesakkk. Sampai sebegitunya, Papua kayak gak dianggep :'''


“Dia orang Indonesia, begitu orang bilang. Dibedakan oleh kulitnya seterang kulit tiram dan rambutnya yang halus sehitam serabut enau.” (NT 2000:16)

Di bab Upacara Keramat, gue mengalami kebosanan yang luar biasa karena di bab ini buanyaaakkkkkkk banget istilah Papua yang gue gak ngerti, yang mengharuskan gue bolak-balik ngeliat halaman depan supaya tau itu artinya apa. Kadang saking bosennya gue bodo amat deh ga ngerti sama arti dari istilah itu, tapi kadang juga istilah itu sering disebut bikin gue kepo huhuh. Ditambah, ada beberapa deskripsi suasana upacara dan benda-benda yang mereka gunakan selama upacara, yang gue nggak bisa ngebayangin benda itu bentuknya kayak apa *imajinasinya jelek* *anak sastra macam apa*. Tapi di bab ini bener-bener memperkenalkan budaya Asmat banget yang selama ini gue nggak tahu, ga pernah gue temuin di acara TV manapun. Taunya paling rumah adat, pakaian adat dan tarian tradisionalnya aja. Nggak semendalam buku ini. Dari tradisi hubungan antarkeluarga, antarkerabat, antartetangga, pimpinan suku, ksatria perang, pernikahan, syukuran, dan masih banyaaaak lagi. Gara-gara bab ini, gue mulai bisa memahami budaya Asmat yang luarbiasa mengagumkan.


Di pertengahan cerita mulai seru karena beberapa orang Asmat bepergian ke benua Eropa dan Amerika. Banyak kejadian lucu dan sebenarnya menyebalkan juga karena culture shock alias keterkejutan budaya yang mereka alami ketika berada di negeri yang budayanya terbilang sudah lebih modern. Dari mulai malasnya mencuci baju, suka minum bir, suka ngerokok mulu padahal harus menjaga kesehatan selama di sana, terus juga mulai ngikutin 'kegiatan' orang bule sama pasangan gara-gara nonton adegan film di tv, dan lain-lain. Dengan penggunaan sudut pandang orang pertama yakni tokoh 'aku' alias Teweraut sendiri, membuat kritikan dan sindiran yang terdapat di dalam novel ini  terlihat sangat polos dan apa adanya.


Kritikkannya itu antara lain mengenai banyaknya peraturan yang memusingkan bagi masyarakat Papua ini karena selama tur mereka harus mengikuti jadwal yang sudah ditentukan. Dari bangun pagi, sarapan, berangkat pentas, pulang ke hotel, sampai jam tidur. Semua harus dituruti. Hal tersebut membuat mereka merasa, 'kenapa sih kami harus menuruti peraturan? Kenapa peraturan itu hanya diberikan kepada kami?" (pokoknya kira-kira begitu) karena Tewer merasa aturan yang telah diberikan tersebut tidak berlaku bagi panitia dan juga orang-orang setempat lainnya. Sehingga mereka sering membangkang dan melawan karena merasa mereka aja boleh melanggar, kenapa kami tidak?.

“....Mengapa aturan itu hanya ditujukan khusus pada kami dan tidak diberlakukan secara sama pada anggota panitia? Apa bedanya? Mengapa tolok ukur moral hanya dipusatkan pada orang-orang Asmat belaka?....” (NT 2000:118)

“Ataukah aturan itu tidak berlaku bagi orang-orang yang bersekolah tinggi yang konon intelek dan berperadaban tinggi, namun hal itu merupakan perilaku kebiadaban buat orang-orang seperti kami, yang masih digolongkan manusia zaman batu?” (NT 2000:118)

Dua kutipan di atas mengingatkan gue mengenai kasus-kasus sepele yang melibatkan orang kecil. Seorang nenek yang mengambil buah coklat terus disidang, yang paling baru seorang ibu penjual kopi ngambil piring kecil tatakan gelas punya penjual sebelah. Helloowwhhh what about corruptors? Or drugs dealers? Peraturan hanya diterapkan kepada masyarakat kecil yang sebenarnya tidak tahu apa-apa karena kurang sosialisasi dan diperhatikan oleh pemerintah sendiri. Cerminan banget kalo anggota panitia itu para petinggi yang berukasa dan orang-orang Asmat itu masyarakat kecil yang tertindas. Sedih gak sih? Sedihhhhhh gue mah.

Kemudian ketika rombongan Asmat ini sudah sampai di Belanda, terjadi kegaduhan karena menurut mereka (orang Belanda), 'orang primitif' gak pantes mengotori negeri Belanda dengan pertunjukkan yang menggambarkan dunia yang masih biadab. Lagi-lagi, gue sedih. Tetapi Teweraut 'membalasnya' yang menurut gue itu menyesakkan.

“Benarkah demikian? Atau karena mereka berkulit putih merasa terganggu. Tak memiliki warna budaya sendiri selain menjiplak dari budaya bangsa-bangsa lain? kalau tak keliru, mereka malah banyak belajar dari bangsa Asia....” (NT 2000:128-129)

Di bagian ini juga menyindir negeri Paman Sam yang segala pembangunan negaranya yang megah itu karena kekayaan Papua. Yakni perusahaan Freeport yang telah 'menjajah' Papua, yang ngakunya mau menyejahterakan masyarakat Papua. Istilahnya, ya Amerika keren karena Papua. Kekerenan Amerika itu gara-gara kekayaan Papua yang nggak pernah dimiliki Amerika. Duh sedepppp. Hal itu diibuktikan dari kalimat ini:

“Aku pun lalu merindukan Agaats, bahwa suatu waktu mampu menjelma sebagai New Orleansnya Irian Jaya. Jangan tertawa. Bos perusahaan tambang Freeport berasal dari negeri ini. Semestinya wajar perusahaan itu punya kewajiban moral untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Irian Jaya, yang sesungguhnya kekayaan pulauku merupakan modal daerah untuk merealisasikan pembangunan masyarakat di sana.” (NT 2000:143)


Ketika rombongan pulang ke kampung halaman, Tewer, yang awalnya sangat bangga dan merasa lingkungannya baik-baik saja, matanya mulai terbuka tentang kondisi yang sebenarnya, setelah melihat kemegahan negara luar dan peradabannya. Di bagian-bagian ini gue ngerasa kalo zaman yang katanya modern ini, kebahagiaan dan kesejahteraan itu dinilai dari uang dan materi. Kalo mau kenyang, ya kudu ada uang. Kalo mau bisa tidur enak dan baju nyaman, ya harus ada uang. Beda dengan jaman duluuuu banget ketika apa-apa bisa kita ambil di alam sekitar. Tapi sekarang, mau ngambil pisang di pohon yang ga sengaja ditemuin aja bisa jadi masalah besar. Kalo di buku, ada adegan seorang pemuda Asmat yang sedang mengambil pohon dari perkebunan gitu yang ternyata kebun itu milik suatu perusahaan, sehingga pemuda itu terjerat masalah dan orang-orang Asmat dibilang pencuri. Padahal, sebelum perusahaan itu datang dan menguasai hutan, mereka sudah biasa untuk mengambil apapun yang ada di alam, baik untuk keperluan upacara maupun kebutuhan sehari-hari.

“....Orang-orang Asmat misalnya, yang tinggal menetap berabad-abad dalam hutan ini biasa menebang untuk kebutuhan perahu lesung baru atau uoacara tonggak leluhur melalui upacara-upacara suci, dengan minta permisi pada arwah para leluhur terlebih dahulu, tiba-tiba orang pintar pemegang HPH dengan perkasanya datang menyerbu menggunakan mesin-mesin penebang elektronik...” (NT 2000:204)

Ada juga kritikan tentang tentara Indonesia yang tidak memihak terhadap warga Papua ketika salah seorang warga Papua yang sudah lama menjalankan bisnis pertambangan emas tradisional, dengan tujuan membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Menurut para tentara itu, kekayaan itu milik negara Indonesia, jadi kita gak boleh seenaknya pakai kekayaan itu untuk urusan bisnis. Ya bener sih itu, tapi gimana ya, kalo negaranya sendiri nggak bikin lapangan pekerjaan bagi masyarakat itu sendiri? Sedangkan mereka udah pasti butuh uang buat melangsungkan hidup.

“Minggu lalu mereka (tentara Indonesia) mengepung pertambangan Haji Taha dan menembak Mikael. Ia mati terpanggang saat memuat bungkahan emas ke atas mobil pik-ap. Haji Taha sendiri orang Kaimana, yang sejak 2 tahun lalu membuka pertambangan emas tradisional dalam upaya membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar tanah ulayat suku Komoro. Kata mereka, kekayaan itu milik Indonesia, tidak sepatutnya dibenarkan sembarang orang menggali keayaan bumi Indonesia tanpa melalui jalur hukum dan izin pemerintah.” (NT 2000:158)

Segalanya sudah dikomersialkan, termasuk kesenian dan kebudayaannya. Hasil karya seni, bagi orang-orang kayak kita, ya kita beli buat pajangan atau apapunlah, tanpa memikirkan makna dan falsafah dari karya seni tersebut. Makna dan filosofi yang indah dalam karya seni sudah tidak bernilai lagi ketika karya seni dikomersialkan secara massal.

“.....Nilai ukiran secara gamblang menurun kualitasnya, karena sudah tidak ada lagi nilai yang mampu mempertahankan keberadaannya selain maksud-maksud komersial.” (NT 2000:167)

Kemudian mulai deh, penggambaran kondisi warga Asmat yang sebenarnya mirip sama di Jakarta dan di daerah lain. Gue bingung deskripsiinnya dengan cara yang baik, tapi kasarnya rata-rata orang tua pada lebih memilih supaya anaknya cari duit aja, jangan sekolah. Karena menurutnya sekolah gak bikin mereka kenyang. Sampai Teweraut sendiri merasa ketika datangnya pendidikan, orang-orang cendekiawan membuat masyarakat setempat semakin kesusahan. Ia malah merasa orang-orang yang berpendidikan itu seharusnya tidak perlu repot-repot mengurusi mereka.

“Cowut saja tak pernah mengecap pendidikan sekolah  karena nDiwi-nya berpendapat sekolah Cuma bikin tambah repot keluarga. Menurutnya sekolah tidak bisa memberi sagu dan ikan.” (NT 2000:177)

“Datangnya sekolah dan masuknya pedagang-pedagang dan perusahaan penebangan kayu, dan akhir-akhir ini pemburu kayu gaharu, ternyata menjadi momok yang penuh ancaman dahsyat bagi tatanan sosial masyarakat. Aku pun lalu merasa perlu balik mengasihani bapak-bapak cendekiawan, yang sejak mengenal nama Asmat, menjadi repot memberikan ajaran-ajaran baru yang memerlukan waktu panjang untuk dapat diterima sebagai suatu kebiasaan peradaban baru” (NT 2000:203)

Terutama ketika Akaptis menjadi terobsesi untuk menjadi kaya raya (padahal dalam tatanan sosialnya di suku Asmat merupakan orang yang kaya) untuk menyejahterakan istri-istri dan anak-anaknya agar memiliki kebutuhan primer yang layak. Walau sebenarnya dia adalah orang terpandang dalam tatanan sosial suku Asmat, tetapi dalam tatanan sosial global ia bukanlah apa-apa karena tidak memiliki uang yang menjadi simbol kesejahteraan. Bukan lagi kekayaan hutan yang dapat menghidupi keluarganya. 


“Akaptis dilecut obsesinya untuk mewujudkan impian meningkatkan penghasilan yang dapat menunjang kesejahteraan keluarga dan keturunannya, ternyata kesejahteraan itu hanya dapat diperoleh dengan uang yang dibayar tunai. Tak cukup dengan cara memetiknya Cuma-Cuma di hutan.” (NT 2000:233)


Buku Namaku Teweraut ini bener-bener membuka mata gue tentang Papua, tentang Indonesia, bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, guys. Gue pernah denger radio yang membahas hal apa yang bikin semua rakyat Indonesia bangga sama negaranya yang dijawab oleh pendengar langsung lewat sms. Terus ada pendengar yang mengatakan, "hal yang bikin semua rakyat Indonesia bangga sama negaranya sendiri adalah ketika Indonesia bukan Jawa doang". Itu nusuk men. Nusuk. Banget. 


Terus ditambah dengan obrolan dengan seseorang teman tentang gerakan Papua Merdeka, ada yang bilang, yah, orang Papuanya juga sih yang rese. Seneng mabok-mabokan. Gara-gara baca buku ini, gue jadi lebih terbuka, mereka pun suka mabuk bukan karena mereka sendiri, melainkan campur tangan orang barat yang menyebarkan minuman keras di daerah sana (ada cerita di bukunya, tapi gue lupa kalimatnya kayak apa, gak gue catet. Bukunya udah dikembaliin di perpustakaan huhu maap yak). Setelah kenal, ya mereka pasti jadi kecanduan, sama kayak narkoba. Jangan salahkan mereka lah. Kalau ingin memajukan sih, mungkin cara pendekatannya yang harus dipikirin lagi. Gue sendiri nggak tahu gimana caranya, tapi mungkin cara yang paling sederhana dan yang paling kecil itu, sebelum kita mengenalkan budaya modern ke mereka, kita harus tau budaya mereka terlebih dahulu. Budaya yang sudah mendarah daging di kehidupan mereka. Dengan mengenal mereka, kita jadi tau bagaimana cara ngadepinnya. Kalo kita mau wawancara orang atau mau ngadepin orang aja, kita harus tau kan orang yang mau kita hadapin kayak gimana, supaya bisa tau kita harus ngapain.

Diingetin lagi ya, ini cerita diterbitkan pada tahun 2000, bukan tahun-tahun sekarang. Pencarian tentang Papua yang ter-update sesungguhnya masih kurang. Mungkin temen-temen bisa cari sendiri dan share di comment, supaya pandangan kita semakin terbuka :)


Terima kasih mba Ani Sekarningsih sudah mengenalkan Papua melalui tulisanmu yang indah ini, dan sudah membagi hasil penelitianmu tentang Papua dengan kalimat-kalimat yang menyentuh nuraniku, untuk membuka mataku, membuka pikiranku. (Iya, penulisnya ini udah terjun langsung di tanah Papua untuk meneliti dan langsung jatuh cinta sama suku Asmat. Makanya gak heran isinya detail banget, terutama di bab pertama!! Seakan-akan yang nulis orang Papuanya langsung ya haha).

Oke terima kasih sudah mau membaca isi pikiran gue di postingan ini yaaa maaf kalo kebanyakan hehehe.

Have a beautiful day! :)

1 comment

Instagram

magellanictivity. Theme by STS.