Akhirnya setelah sekian lama vakum ngeblog akibat tugas yang merajalela, menggerogoti waktu dan jiwa gue untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Ditambah emang ga ada bahan juga sih untuk ditulis. Sebenarnya ada sih, di draft. Tapi tulisan gue ini ga selesai-selesai soalnya fokus gue gampang kabur ketika kepikiran tugas. Tapi udah gapapa kok, tugas gue udah kelar yaaayyyy~
Oke lanjut kembali ke topik. Desember lalu gue dan temen-temen gue nonton pementasan Teater Zat di Gedung Pertunjukkan Bulungan dalam rangka ulang tahun dua dekade Teater Zat dengan membawakan lakon Digugu dan Ditiru karya dan sutradara Gugum Okta Riansyah. Bagaimana ceritanya? Gue sendiri ga baca sinopsisnya, jadi pas gue nonton bener-bener gatau apaan ceritanya.
Pembukaan pementasan ini cukup bikin menarik, ya. Dengan tata lampu warna-warni di backdrop-nya memberi kesan ceria. Para karbaret sedang bermain bersama ala-ala anak Indonesia gitu. Dilatari oleh musik yang menggambarkan kondisi kebahagiaan anak-anak Indonesia saat bermain. Terus pokoknya tiba-tiba mereka menari-nari sambil nyanyi gitu, nyanyiin theme song dari lakon ini. Gue seneng banget liat pembukaannya ini, karena emang pada dasarnya gue seneng sih ngeliat tarian dan musik hehehe.
Di sini gue juga terkejut sama dandanan para pemain yang terlalu putih. Entah kenapa, dari pementasan sebelumnya hal ini juga kejadian. Entah mereka menggunakan satu shade foundation untuk semua jenis warna kulit para pemainnya atau gimana. Wajah yang terlalu putih ini mengingatkan gue sama pementasan Teater Niyaniya [baca reviewnya di sini]. Putih banget, kayak pake pidi. Gue ngerti kok riasan di atas panggung sama di harihari biasa itu beda, tapi ini suwer terlalu putih meeen.
Udah kelar opening, langsung ganti scene. Teater Zat ini keren juga ganti scene-nya gak pake black man, jadi ga perlu di black out dulu gitu. Jadi para karbaret ini pas kelar joget dan nyanyi, mereka ceritanya mau main semacam keluarga-keluargaan. Si A mau jadi ibu, si K mau jadi ayah, dan lain sebagainya. Terus pas mau mulai mereka ngambil properti rumahan dari wing soksok mau main gitudeh. Terus perpindahan scene ini diakhiri oleh salah satu anggota karbaret yang mau pulang karena hari udah terlalu larut, terus yang lain pada ikutan pulang deh.
Masuklah seorang aktor perempuan mengambil bagian kiri panggung yang bersetting seperti di dapur, kayaknya sih lagi memasak. Ia menyalakan radio dan terputarlah lagu dangdut, kemudian dia berjoget dengan yahudnya, cukup membuat penonton tertawa. Kemudian di sebelah kanan panggung merupakan setting kamar didatangi aktor laki-laki yang terlihat baru selesai mandi. Pemisahan ini sebenarnya bikin gue pusing mau liat ke mana. Ya emang sih, liatnya mah yang lagi berdialog aja. Tapi gue juga kepengen liat respon aktor lawan biar lebih hidup gitu. Gue ngerti sih pengkondisian kayak gini maksudnya pemisahan dimensi gitu antara dapur dan kamar. Gue gatau ya, gabisa menilai. Tapi bagi gue sebagai penonton agak risih gitu hehehe. Di situ muncullah obrolan antara suami dan istri yang memperdebatkan urusan sekolah anaknya. Sang istri kepingin anaknya sekolah di sekolah bertaraf internasional, karena demi kebaikan anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sedangkan sang suami merasa semua sekolah sama saja, sama-sama diajarkan pelajaran-pelajaran dan sebagainya. Perdebatan itu diakhiri perkelahian antara suami dan istri. Si suami menganggap bahwa istrinya bodoh dan lain sebagainya. Istrinya pun memberikan sumpah serapah.
scene Istri ga gue foto soalnya gelap banget di bagian dianya.
Masih dengan tidak menggunakan black out, ketika perkelahian antara suami dan istri itu terjadi tibatiba muncullah para karbaret sambil membawa properti yang dibutuhkan untuk scene berikutnya. Kemudian pergi lagi sambil membawa properti yang berada pada scene sebelumnya. Gue sebenernya agak bingung sih sama scene ini sebenernya lagi di mana. Ada semacam gerbang atau gapura atau apa gue gatau, terus di depannya ada semacam warung nasi uduk. Jadi bisa aja ini sebuah gerbang rumah, atau gerbang gang perumahan, atau apa gue sama sekali enggak tau. Kemudian di scene ini sudah muncul penjual warung bernama Ipeh lagi sibuk nyiapin dagangannya. Terus muncul lagi dua orang ibu-ibu (iya, kayaknya sih ibu-ibu) yang ceritanya lagi jogging pagi. Gue lupa mereka ngomongin apa, kalo ga salah ngomongin perkelahian antara suami dan istri tadi. Ceritanya tokoh suami tadi itu ganteng di mata mereka berdua, jadinya mereka berdua ini kayak centil-centil gitu deh sama tokoh suami tadi. Tapi hebat juga ya, berantemnya barusan, tapi gosipnya udah nyebar aja di telinga warga. Salah satu refleksi di kehidupan sehari-hari, kayaknya.
Terus banyak orang masuk ke panggung, kembali bernyanyi dan menari dengan bahagia. Hal itu dilakukan sambil menyingkirkan properti-proreti yang ada di sana. Selingan ini cukup keren menurut gue..
Scene dilanjutkan dengan munculnya lakilaki yang lagi nyapu panggung. Kehadiran dia entah kenapa bikin beberapa penonton tertawa. Eh tau-tau si aktor marah-marah sambil bilang, "Tawa tawa!", sontak gue langsung ketawa ngakak ngeliat ekspresi marahnya. Ialah seorang penjaga sekolah yang jutek parah. Pada adegan ini dia seperti 'iklan' namun menarik. Dia berdialog dengan pemusik, juga penonton. Emosi marahnya selalu membuat penonton tertawa terbahak-bahak, terutama gue. Kehadiran penjaga sekolah ini seperti membuat penyegaran untuk penonton yang mungkin mulai jenuh dengan dialog pemain-pemain utama.
Setelah diperhatikan lebih rinci, ternyata dia itu berfungsi sebagai pembawa properti atau pergantian scene. Dibuat seperti itu cukup menarik sih menurut gue. Karena dia penjaga sekolah, udah dapat dipastikan kalau scene berikutnya adalah suasana sebuah kelas. Abis orang ini selesai ngoceh, baru deh ada anak-anak sekolahan masuk.
Awalnya ada yang namanya Pertiwi dan Blank On (nama aslinya Blangkon). Mereka berkenalan. Lalu anak-anak yang lainnya muncul. Mereka memperkenalkan diri dengan gaya dan latar belakang masing-masing. Ada yang dari Jawa, Sunda, Betawi, Batak, dan lain sebagainya. Ada pula yang memiliki kecintaan terhadap tanah air yang tinggi, dan ada yang ngomongnya gagap. Merupakan penggambaran tentang keragaman budaya Indonesia, namun mereka tetap bersatu, tetap berteman. Hanya saja seorang anak yang bersuku Batak ini emosian, mudah tersinggung dan suka marah-marah. Tetapi mereka tetap bisa berteman dengan baik.
Pada adegan ini gue dibingungkan dengan tingkat sekolah apa yang ingin digambarkan? Ada yang berseragam SMA, SMP, dan SD. Kalau masalah variasi seragam pramuka, olahraga dan seragam pengibar bendera gue sih gak begitu masalah. Buat gue sih, aneh aja kenapa semua tingkatan sekolah ada semua di dalam satu kelas.
Kemudian sang ibu guru muncul dan mulai mengajar. Pelajaran pertama itu menggambar. Mereka ditugaskan untuk menggambar pemandangan Indonesia yang indah. Yang ada dua gunung, ada matahari di tengahnya, kemudian langit biru dihiasi burung-burung. Di depannya ada sawah membentang. Ucapan guru itu seperti 'memaksa' murid untuk menggambar dengan cara demikian. Sedangkan pemandangan Indonesia tidak hanya gunung. Banyak murid yang protes mengenai keharusan menggambar seperti itu. Mereka ingin menggambar hal lain tetapi guru itu tidak membolehkan.
Adegan di atas mengingatkan saya ketika saya masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Bisa dibaca di sini. Sindiran pendidikan di Indonesia yang memenjarakan kreativitas anak untuk berkreasi di bidang kesenian.
Untuk adegan berikutnya gue udah agak lupa, ya. Yang jelas, sih, sang guru marah karena murid-muridnya banyak pertanyaan. Alhasil dia keluar panggung, terus fade out, ada buku terlempar-lempar dari wing, terus anak-anak itu berebutan ngambil bukunya. Lampu berkedap-kedip, ada suara gurunya yang berteriak-teriak membentak sambil mengajukan pertanyaan ke murid-murid itu. Para murid sibuk membolak-balikkan buku yang mereka ambil tadi seakan-akan sedang mencari jawaban. Tetapi mereka tidak mampu menjawab pertanyaan, sang guru kembali membentak sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan.
Terus, gue lupa apa yang terjadi karena konsentrasi gue teralihkan dengan hal lain. Lebih tepatnya, bosan. Bosan mendengar dialognya. Pokoknya untuk adegan selanjutnya yang gue inget, ada orang berpakaian meriah yang kalo di bookletnya namanya Nusa. Gue ga inget betul sama penjelasannya, yang jelas dia itu seperti seorang narator, atau pemberi pesan, pokoknya sejenis itulah. Tetapi kehadiran dia malah bikin gue makin ga ngerti sama jalan ceritanya. Kalau dibilang dia narator, kenapa dia hadir di tengah-tengah pertunjukkan? Ditambah, dia juga berdialog dengan para tokoh di dalamnya. Gue ga ngerti dia itu apa. Dan semakin membingungkan gue dengan jalan ceritanya.
Terus pas akhir-akhir sang guru menangis dan marah-marah karena muridnya tak lagi ingin belajar dengannya. Yang bikin lucu lagi, ketika kita sudah dibawa emosinya untuk ikut bersedih dan marah, tiba-tiba aja penjaga sekolah muncul lagi dan bilang "Haha - haha!! Nangis aja lu bantuin sini!!" yang membuat suasana pecah menjadi tawa. Dia kembali melucu di atas panggung. Dia kembali memindahkan bangku-bangku warna warni itu dan berpindah adegan. Maaf yaaa gue lupa lagi adegannya apa. Pokoknya yang gue inget karbaret muncul, berjalan seperti sibuk gitu deh muter-muterin panggung. Makin lama jalannya makin cepet dan diakhiri dengan semuanya terjatuh telentang.
Suami dan istri muncul, sang suami meminta maaf dan menyesal karena telah menyekolahkan Pertiwi di tempat yang salah. Kemudian ceritanya Pertiwi udah gede dan dia udah jadi guru. Namun, dia kembali menjadi guru seperti guru yang dulu mengajarnya.
For the ending, semua aktor menari sambil menyanyi seperti pada adegan pembuka.
Jujur saja gue kurang berkesan tapi gue salut banget sama Teater Zat yang semakin berkembang. Mereka mampu membuat pementasan yang cukup keren dibanding yang sebelumnya yang pernah gue lihat. Eniwei pementasan ini merupakan pementasan kedua Teater Zat yang pernah gue tonton. Menurut gue ini lebih baik dari yang terakhir gue tonton, walau gue kurang berkesan soalnya ga ngerti sama jalan ceritanya. Pesannya nyampe, intinya tentang kritikan pendidikan di Indonesia yang membatasi pikiran kritis anak terhadap apapun. Pas banget ya dipentasin buat anak UNJ? :)
Oh iya, gue juga masih bingung tuh sebenarnya tokoh utamanya itu Pertiwi atau gurunya, ya? Tapi sepertinya sih Pertiwi, walau dia tidak diceritakan terlalu banyak.
Congratulation, Teater Zat untuk pementasan meriahnya! Semoga makin keren teruusssss :D
Post a Comment