Haruka by Teater Niyaniya

Asalamualaikum!

Jadi ceritanya waktu hari sabtu kemarin gue udah janjian ama Syifa untuk nonton pementasan perdananya Teater Niyaniya di Gedung Pertunjukkan Bulungan, membawakan naskah berjudul HARUKA karya Rizky Aurelia Dehars. Dengan tagline "orang jahat lebih baik mati" membawa aura thriller dalam pementasan ini.


Berlokasi di Bulungan, yang seharusnya gue bisa turun di halte TJ Masjid Agung malah jadinya turun di Blok M karena halte Masjid Agung-nya ditutup. Masalahnya adalah: gue ga hapal denah terminal Blok M, dan gatau jalan menuju Bulungan. Bermodalkan arahan abang gorengan dan Google Maps akhirnya gue sampe di Blok M Plaza. Yes, gue ga langsung ke Bulungan karena pementasan dimulai jam 2 siang sedangkan pas sampe sana masih jam 11.30 am.

Setelah puas muter-muter Blok M Plaza (dan menyempatkan diri untuk makan siang di Gokkana Teppan, solat zuhur, dan beli lipstick Wardah Matte nomor 9---gincu abis men warnanya uhuy) sampe kaki gue lecet-lecet (karena sepatunya gak nyaman, aku kangen pake Converse hix), akhirnya kami berjalan kembali menuju Gedung Pertunjukkan Bulungan.



Sampai sana kelihatannya sepi sekali. Penontonnya rata-rata.......mungkin semuanya. Semuanya itu temen-temennya Syifa alias anak-anak Sastra Jepang UI semua. Aku merasa asing........

Pintu akan dibuka ketika ada bunyi gong yang ceritanya bikin suasana sedikit mencekam. Gue duduk lumayan agak ke depan tapi cukup lah buat motret dengan lensa 50mm. Lalu kami disambut oleh dua MC, yang atu ngomong pake bahasa Jepang, yang atu lagi pake bahasa Indonesia. Gue gatau sih gunanya buat apa, soalnya rata-rata yang nonton orang Indonesia. Tapi yang jelas sih biar ada suasana Jepangnya, dan gue juga ngeliat ada satu pria berparas Jepang, katanya dia yang bantuin pementasan ini berjalan. Gue lupa namanya. Tapi kayaknya dia bisa bahasa Indonesia, deh..


[PLOT]
(yang ditulis warna biru itu komentar gue, ya.)

Bunyi gong terdengar lagi. Pementasan dimulai. Dibuka dengan teriakan para prajurit Jepang yang berlari dari tangga atas, bukan dari wing. Mereka ceritanya perang gitu, tapi gerakannya sedikit fail. Mungkin karena lantai panggung yang terlalu licin (soalnya pemainnya pada pakai kaus kaki), jadi jalannya pada hati-hati gitu. Padahal koreo udah bagus. Eksekusinya aja yang kurang greget. Pedangnya bagus banget, eniwei. Keliatan kayak pedang beneran.

Setelah adegan perang dan di endingnya semua prajurit mati, langsung ganti scene di sebuah ruang tamu ala Jepang. Konflik dimulai dari situ. Ketika Haruka tak sengaja menumpahkan minuman ke baju tamu ayahnya. Ditambah, tamunya itu adalah musuh (atau saingan?) keluarga ayahnya. Sang Ayah marah bukan main. Menghina dan mengutuk Haruka bahwa ia adalah anak yang tidak berguna, lalu memukuli ibunya, menyalahkan karena ia telah melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Karena menurut sang Ayah anak laki-laki akan lebih berguna untuk meneruskan kehormatan keluarganya.


Haruka lari ke sebuah taman (kalau menurut interpretasi gue itu adalah sebuah taman) yang terdapat pohon Sakura (pohonnya bagus!). Ia menangis di sana, dan bertemu Kamiko. Haruka curhat sama Kamiko kenapa dia menangis dan problema apa yang sedang ia hadapi. Lalu Kamiko bilang, "Ayahku bilang, orang jahat lebih baik mati". Kata-kata itu terucap berulang-ulang sampai melekat di jiwa Haruka, sehingga siapapun yang jahat terhadapnya harus mati; termasuk ayahnya.




Sampai ia di rumah kembali, ia bertemu sang ibu. Ibunya memberi sebuah belati kepada Haruka untuk berjaga-jaga karena situasi di daerahnya sedang tidak aman, sewaktu-waktu kita bisa bertemu dengan penjahat. Lalu haruka ditinggalkan sendirian, ia menatap belati itu lekat-lekat. Tak lama sang ayah datang dan menendangnya, kembali mengutuk-ngutuk Haruka bahwa ia anak yang tidak berguna. Kemuidan slow motion~


Haruka menyadari satu hal tentang ayahnya, bahwa sang ayah jahat, dan sudah seharusnya ia mati. Tanpa berpikir panjang ia menusukkan belati itu ke perut sang ayah. Ayahnya mati di tempat, lalu ibunya melihat jasad suaminya dengan terkejut. Menyalahkan Haruka. Haruka membela diri, bahwa itu adalah perlakuan yang terbaik. Ia melakukan itu juga demi ibunya yang suka disiksa oleh ayahnya yang jahat. Ibunya tetap tidak terima, dan mengatakan bahwa Haruka itu jahat. Mereka berdebat siapa yang jahat dan tidak jahat, sampai akhirnya Haruka menusukkan belati itu kepada sang ibu, berulang-ulang. Biar lebih sadis, BERULANG-ULANG. Gue membayangkan kalo scene itu terjadi di film, pasti darahnya muncrat-muncrat gitu deh, terus kondisi perutnya udah ga jelas gitu hiiiii.

Lalu muncul Kamiko, seakan-akan hanya sebuah bayangan, tertawa misterius dan mengatakan sesuatu yang sedikit....apa ya sebenarnya gue lupa sih dia ngomong apa hehehe. Oiya, selama adegan babak pertama ini, sayang sekali wajah Haruka tertutup rambut terus. Jadinya kita ga bisa menikmati ekspresi misterius dan kejamnya.

Pementasan sudah berjalan satu jam, waktunya untuk beristirahat sejenak selama 15 menit. Penontonnya ada yang keluar, ada yang menetap di dalam teater. Gue lebih memilih untuk menetap di dalam teater karena lebih pewe di situ ehehe.

Oke lanjut. Gong berbunyi lagi, pertanda pertunjukkan akan segera dimulai.

Dibuka dengan Haruka yang seperti terbangun dari kematian, seperti berada di alam baka, atau akhirat. Dia mencari-cari Kamiko, dan berkata, "Kamiko, kamu dimana? Sekarang, tidak ada yang bisa memisahkan kita. Kamiko, kamu dimanaaa?? DIMANA KAMU KAMIKO?!?", sambil berteriak-teriak kemudian fade out.

Ketika fade in, ada Haruka di taman itu, dan didatangi oleh Kamiko lagi. Mereka bernostalgia ketika mereka pertama kali bertemu di tempat itu. Kemudian Kamiko bercerita bahwa ia akan segera menikah dengan seorang lelaki tampan, yang membuat Haruka tak suka. Haruka tak ingin kehilangan Kamiko, ia tak suka jika ada orang lain dekat dengan Kamiko. Niat busuk kembali menghiasi pikirannya. Di sini terlihat seperti di film The Roommate, tentang seorang teman sekamar di asrama kampusnya yang sangat terobsesi dengan si pemeran utama. Hanya saja Haruka lebih ekstrim. 




Kemudian masuk ke adegan calon suaminya Kamiko bersama dua pengawalnya sedang mabuk dan 'bermain' dengan perempuan nakal (uhuy~). Di sini dua pengawal calon suami Kamiko berhasil menarik perhatian penonton karena ulahnya yang aneh-aneh. Sebuah trik supaya dia tidak terlihat 'mati' di hadapan penonton. Tetapi sayangnya mereka terlalu menarik perhatian, sehingga calon suami Kamiko itu tenggelam, kurang menarik untuk diperhatikan, padahal ia sedang berdialog dengan para perempuan nakal itu. Ia berkata bahwa ia sebenarnya tidak peduli dengan pernikahannya dengan Kamiko.

Kemudian terdengar suara teriakan Haruka dari luar. Calon suami Kamiko menyuruh dua pengawalnya untuk memeriksa. Ketika mereka keluar panggung, Haruka datang dan memeluk calon suami Kamiko itu sambil berteriak ketakutan meminta pertolongan. Lelaki itu kembali memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja jika Haruka ada di sisinya, dengan suara meledek. Saat ia bertanya kenapa, Haruka langsung menusukkan belatinya kepada lelaki itu, dan menggorok lehernya sampai mati. Hal yang sangat disayangkan adalah, ketika lelaki itu digorok, seharusnya ia tidak berteriak histeris, melainkan hanya merasa tercekat. Karena jika leher digorok seseorang tidak akan mampu bersuara, apalagi berteriak. Seharusnya ia teriak tertahan seperti tercekat saja. Kemudian dua pengawal itu datang lagi dan Haruka membunuh mereka dengan mudahnya.


Scene memperlihatkan Haruka sedang menikmati keindahan pohon sakura, Kamiko mendatanginya sambil menangis tersedu-sedu karena kematian calon suaminya. Haruka menenangkannya, mengatakan masih ada dirinya yang mau menemani Kamiko sampai kapanpun.

Lalu orangtua Kamiko menjemput, menyuruhnya untuk segera pulang karena situasi semakin mengerikan, karena mereka mengira ada pembunuh yang berkeliaran. Orangtuanya tidak mau Kamiko akan menjadi korban juga. Haruka semakin tidak suka dengan tindakan itu. Ia tidak suka Kamiko diperlakukan demikian.


Ia mengunjungi rumah Kamiko yang pintu depannya dijaga ketat oleh para pengawal. Haruka tidak boleh masuk, karena tidak ada yang boleh menemui Kamiko. Kamiko dikurung di dalam rumahnya, dan Haruka tidak suka. Ia menjauh, lalu muncul dua orang perempuan yang menyebalkan. Mem-bully Haruka dengan cemoohan. Haruka semakin tidak suka dan tanpa segan membunuh dua orang perempuan tadi. Marah, ia kembali ke depan rumah Kamiko dan membunuh dua penjaga tadi. Orangtua Kamiko datang keluar dan dibunuh juga olehnya. Menurutnya, mereka itu jahat, telah mengurung Kamiko, padahal Kamiko tidak bersalah apa-apa.



Kamiko keluar rumah dan mendapati banyak sekali orang mati di depan rumahnya, termasuk orangtuanya. Ia juga melihat Haruka sedang sibuk menusuk-nusuk perut ibu Kamiko dengan kejamnya. Kamiko marah besar, dan mengatakan bahwa Haruka itu jahat. Haruka membenarkan tindakannya yang telah membunuh banyak orang, "demi kebersaaan kita, agar tidak ada yang bisa memisahkan kita..", katanya. Kamiko tidak terima, lalu tanpa sengaja Kamiko tertusuk oleh belati yang dipegang Haruka. Kamiko mati saat itu juga. Haruka menyesal, lalu ia membunuh dirinya sendiri, karena ia pikir, dengan begitu ia akan bertemu kembali dengan Kamiko di dunia yang lain, sehingga tidak ada yang bisa memisahkan mereka.


Seru, kan, ceritanya? Yap, gue pribadi sangat suka sama naskahnya. Ga heran kalau naskah ini pernah menang di acara tahunan FIB UI, kayak Pekan Kesenian gitu. Yang kali ini, katanya udah disadur sedikit. Pokoknya mantep deh nih naskah!

Bagian tata lampu gue ga ngerti kenapa banyak banget bagian aktornya yang gelap ga keliatan gitu, ga kena lampu. Terus banyak adegan digelapin, katanya sih buat sensor adegan sadis. Kalau make up, awalnya gue ga ngerti kenapa pake pidi putih semua gitu, yang setau gue kalo pake pidi putih berarti karakter surealis. Ternyata, kata Syifa, kalo di Jepang emang begitu dandanannya. Terus gue keinget sama film Geisha yang rata-rata di-make up putih gitu. Tapi gue baru tau kalo yang cowok-cowoknya juga di-make up kayak gitu hehe. Kostum dan properti udah paling juara lah pokoknya. Gue suka banget!

Walau gue ga begitu terkesan sama pementasannya, untuk pementasan perdana, menurut gue udah layak ditonton, kok :)

Mohon maaf kalau ada komentar yang nggak menyenangkan. Gue me-review ini dari kacamata penonton penikmat teater, bukan kritikus seni hehehe. Semangat terus buat Teater Niyaniya! Jangan berhenti berkarya. Semoga akan semakin maju terus~ :D

Post a Comment

Instagram

magellanictivity. Theme by STS.