WSC kali ini dilaksanakan di sebuah desa bernama desa Cikoneng, Anyer. Desa ini tergolong unik karena walaupun berada di provinsi Banten, bahasa yang mereka gunakan sehari-hari menggunakan bahasa Lampung. Tak ada informasi apapun mengenai desa ini di internet---mungkin bisa jadi baru gue yang menuliskan sedikit tentang desa ini. Tapi beberapa teman-teman yang mengikuti WSC tidak berniat untuk melaksanakan penelitian, melainkan untuk jalan-jalan karena kami diiming-imingi akan wisata ke salah satu pantai di Anyer. Oh betapa gue merindukan pantai. Panas terik, laut dan langit biru menyatu di ujung laut, pasir putih yang lembut menyelimuti kaki, suara deburan ombak yang merdu..........
Sesampainya di sana, kami di-drop di sebuah tanjung bernama Tanjung Tum. Turun dari bus dan melihat laut di ujung sana.. tanpa berpikir panjang gue langsung berjalan menuju suara ombak itu. Namun, gue tidak menemukan pasir. Namanya juga tanjung, ya kan? Adanya hanya laut dan karang tajam yang sedang ditabraki ombak. Tapi tak apa, setidaknya gue bisa menikmati suasana laut yang masih tergolong asri ini.
Pemandangan pabrik dari Tanjung Tum
Bagaimana kisah selanjutnya?
Nyoba-nyoba foto ala model-model tapi agak fail gitu..
Dari tanjung Tum kami harus berjalan kaki menuju desa dan rumah yang akan kami tinggali untuk semalam. Dengan barang bawaan yang cukup berat dan perjalanan yang cukup jauh berhasil membuat gue kelelahan. Setelah melihat sekeliling, gue gak merasa ada di desa. Ya desa, sih. Tapi desa ini sudah tergolong maju, karena penduduknya sudah banyak yang menggunakan sepeda motor untuk alat transportasi sehar-hari. Bahkan sesekali gue ngeliat ada mobil terparkir di rumah-rumah. Suasana desa tetap terasa karena banyak hewan ternak yang lalu-lalang tanpa segan. Ada juga tempat-tempat lapang namun sepertinya tak layak untuk bermain bola, melainkan untuk tempat hewan ternak beristirahat.
Sampai ke rumah tinggal sementara masing-masing, kami beristirahat sebentar. Tak ada hasrat untuk hunting foto. Karena setiap gue membuka kamera, teman-teman kepingin minta difoto. Akhir-akhir ini gue bosen memotret wajah-wajah orang yang posenya itu-itu aja, ngabis-ngabisin memori. Gue akan membuka kamera hanya ketika berada di luar ruangan saja.
Lalu kami dipersilakan untuk menuju ke sebuah Sekolah Dasar di desa ini untuk mendapatkan materi singkat tentang desa Cikoneng oleh seorang sepuh. Dari sejarah-sejarah sampai kebiasaan penduduk. Penyebab mereka menggunakan bahasa Lampung akibat banyaknya penduduk dari Lampung yang pindah ke desa Cikoneng karena sebuah perjanjian yang ditulis di sebuah prasasti (prasasti ada di sebuah tempat di daerah Kalianda). Gue ga inget betul penyebab lebih detail tentang perjanjian ini karena sang sepuh tidak fokus dalam pemberian materi. Bentar-bentar pindah ke sejarah-sejarah lain yang sebenarnya tidak begitu berpengaruh dengan materi yang seharusnya disampaikan. Mungkin karena terlalu banyak pengetahuan di otaknya mengenai sejarah-sejarah di Indonesia.
Para dosen pembimbing.
Yang agak menarik, ada sebuah sumur besar bernama Sumur Agung yang dipagari tembok besar. Terlihat seperti sumur yang istimewa. Lalu gue dan teman-teman sekelompok menghampiri sumur itu karena penasaran. Sang sepuh berkata, "Hati-hati, dik. Bilang asalamualaikum dulu". Memang terlihat agak angker karena berada di pelosok, memojok, seperti tak berpenghuni. Namun gue akhirnya melihat seorang remaja yang keluar dari sumur itu sambil membawa dua ember. Kesan angker makin menghilang ketika ternyata di dalam sana ada beberapa anak kecil yang sedang asik mandi. Setelah melewati pagar, anak-anak kecil tadi mengatakan bahwa di dalam sumur itu ada ikan-ikan. Iya, besar sekali ikannya, sepertinya dipelihara. Ternyata sumur itu telah menjadi tempat yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh penduduk setempat. Jadi, yah, gak begitu sakral. Walau konon katanya kalau kita mandi dengan mengikuti step-step ritual, kita bakal enteng jodoh dan sudah dibuktikan oleh beberapa penduduk yang pernah mencobanya.
Memulai penelitian, gue dan temen-temen sekelompok segera mewawancara sang sepuh ini. Sepuh yang kamu pikirin pasti kakek-kakek atau nenek-nenek yang tua banget dan kalo jalan pake tongkat. Enggak untuk yang satu ini. Kakek ini kuat banget ngerokoknya. Pas lagi ngasih materi aja dia sambil nunggu ngerokok dulu di dalem ruangan. Dia tua, tapi gak pake tongkat, dan dia adalah seorang PNS. Pas ditanya-tanyain, desa ini memang sudah tergolong modern. Tidak ada adat istiadat yang terlalu mengikat. Budaya-budaya juga memudar. Paling budaya-budaya lokal yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Warganya banyak yang bekerja di industri-industri di kota, banyak juga yang meneruskan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. Walau tetap ada warga yang bekerja sebagai nelayan dan petani, namun sekarang jumlahnya sedikit. Gue juga ngeliat di SDN Salatuhur ini udah ada lab komputer, walau keadaan aula yang gue tempati untuk mendapatkan materi tidak terlalu baik. Sudah modern, tapi kurang diperhatikan.
Setelah wawancara sekilas kami beristirahat kembali. Katanya pas habis maghrib kami akan kembali ke Tanjung Tum untuk pemberian materi lagi dari para dosen, dan sekalian ada acara bakar-bakar ikan dan jagung. Tapi rencana itu tak jadi dilaksanakan karena hujan deras mengguyur Anyer. Pake acara mati lampu segala, bikin gue makin ngantuk. Akhirnya pemberian materi dilaksanakan di salah satu rumah warga. Betapa baiknya warga sini, mau direpotkan oleh mahasiswa Jakarta yang kebanyakan mudah mengeluh. Ditambah rumahnya dipakai untuk presentasi materi.
Singkat cerita, keesokkan harinya gue dan teman-teman ternyata akan pergi ke sebuah pantai----yang gue ga tau apa nama pantainya----untuk acara wisata. Satu catatan di sini, yang bikin gue ga semangat bukanlah karena desanya, melainkan panitia yang seperti tidak ada persiapan yang matang. Susunan acara gak pernah dikasih, apa saja yang harus dibawa juga gak dikasih. Semuanya persiapan sendiri aja. Termasuk ke pantai ini, mereka gak bilang bakal ke pantai. Mereka bilangnya adanya outbond yang bisa dilakukan di mana saja. Ternyata yang dimaksud adalah banana boat yang bisa kami gunakan sesuka hati. Saat itu gue sengaja ga bawa baju ganti ketika menuju ke pantai karena gak ada niatan untuk berbasah-basah.
Setelahnya, tidak ada yang menarik. But I still enjoyed this beach. Terkadang gue duduk di atas pasir yang kering, memejamkan mata dan menikmati suara ombak. Atau berdiri di atas pasir yang basah, menikmati tabrakan air laut yang melewati kaki-kaki gue, dan merasakan pasir yang menyusut dari telapak kaki gue. Pasirnya tidak putih, tetapi tetap lembut. Gara-gara ini, gue jadi balas dendam sendiri. Gue harus ke pantai suatu hari nanti, pantai yang luar biasa indah, yang jarang dikunjungi, dan bisa menikmati suasana pantai seutuhnya. Kalo perlu, ingin rasanya gue ke semua pantai yang ada di Indonesia. Pasti cantik-cantik. Semoga tercapai.
Post a Comment