KKNM Malapetaka dalam Novel SERUAK

Ketika gue nonton Maleficent waktu itu sekitar tanggal 19 Juni di Gading, murid nyokap gue yang waktu itu ngikut gue ama nyokap nonton kepengen mampir ke Gramedia dulu. Mau liat-liat buku, katanya. Akhirnya gue jadi iseng deh liat-liat buku yang baru, kira-kira ada yang seru atau enggak. Gak ada terbesit hati untuk membeli buku baru. Tapi emang dasar, kalo yang namanya dari toko buku itu ga bisa pulang dalam keadaan tanpa plastik hasil belanja buku. Entah kenapa, kayaknya harus beli gitu.

Ke rak buku yang berisikan novel-novel semi-sastra, dan menemukan sebuah novel berjudul Seruak karya Vinca Callista. Di bawah judulnya tertulis genrenya, yaitu a psychothriller novel. Novel psychothriller terakhir kali yang gue baca itu judulnya Katarsis, yang membuat gue agak ketagihan baca novel beginian karena biasanya diselipkan misteri-misteri yang membuat gue ikut menebak-nebak akhir ceritanya yang biasanya unpredictable. Untuk novel Kartasis, akhirannya gak begitu mengejutkan karena gue udah curiga di tengah-tengah cerita, namun tetap berakhir sangat mengesankan bagi gue. Gue juga berencana untuk bikin skrip film gitu iseng-iseng, tapi gak kunjung gue kerjain karena novel lagi dipinjem temen huhuhuh.

Lanjut ke Seruak, gue pun tertarik untuk membelinya. Harganya cukup mahal, sih, karena novelnya tebel banget ada sekitar 434 halaman. Tapi gak apa-apa deh, butuh cerita yang ringan setelah sedikit pening akibat membaca buku sastra terus. Akhirnya gue beli, tapi gak langsung baca karena belum ada mood sampai akhirnya gue mulai membacanya sekitar 2 minggu lalu.

Sekarang gue kepingin cerita kesan gue terhadap buku ini. Mencoba ngereview sedikit karena yah gue kan masih awam hehehe.





NAH. Kalau dilihat dari sampulnya; warna pink dengan gambar sebuah pintu seperti bentuk peti mati dan ada garis pink muda di sebelah kirinya. Tak ada kesan angker karena warna dominannya pink. Terlebih di setiap angka yang menunjukkan halaman buku dihiasi buah mangga dan di setiap babnya ada gambar roket. Untuk jenis novel psychothriller, tidak ada kesan angker. Namun tetep bikin penasaran karena gambarnya seperti peti mati.



Ketika novel itu dibentangkan, ternyata garis pink muda di sebelah kiri novel itu menunjukkan ujung sebuah pistol pemburu gitu. Nggak ngerti maksudnya apa, tapi semuanya akan terkuak maksud dari simbol-simbol itu di dalam ceritanya. Akan terasa relevan simbol itu ketika selesai membacanya. Makanya, baca!


Cerita dibuka dengan kisah salah satu tokoh yang terkesan bahagia dan menyenangkan yang dilanjutkan dengan adegan yang lumayan bisa menjadi intro cerita dengan genre psychothriller. Nama-nama tokohnya menurut gue sih agak aneh-aneh yah karena asing gitu jadinya gue agak susah beradaptasi dengan nama dan karakternya masing-masing yang telah dideskripsikan si penulis. Juga, beberapa nama tokohnya itu buat gue bingung juga karena gak menunjukkan nama cewek atau cowok. Tapi lama kelamaan gue jadi terbiasa sama nama dan karakternya. Walau ada salah satu karakter tokoh Bonie yang bikin gue bingung ketika mulai di bab-bab pertengahan menuju akhir, sesuai pada sinopsis di sampul belakang. Hmmm.... ada apa ya? :)

Cerita diselingi oleh masa lalu-masa lalu tokoh dari yang biasa aja sampe yang sangat gelap, juga ilmu-ilmu mengenai psikologi dan filsafat. Sometimes i get bored oleh pemikiran-pemikiran filsafat itu tapi boleh juga untuk nambah wawasan.

Dari awal sampe bab-menuju-akhir keadaan adem ayem aja ketika para mahasiswa ini lagi KKNM ke sebuah desa di Jawa Barat, gak ada kesan yang menyeramkan. Hanya diselingi kejadian-kejadian aneh-tapi-yaudahlahya, dan kejadian masa lalu itu yang membuat misteri tersendiri, dan yang membuat gue amat sangat penasaran apa di balik misteri ini. Jadi si penulis ini memang sudah berhasil membuat gue ikutan menganalisa sendiri, mencoba membuat kesimpulan sendiri dari fakta cerita yang ada.

Penulis juga berhasil membuat pembaca, khususnya gue, terlanjur dibuat jatuh cinta dulu dengan salah seorang tokoh yang supel, asik, dan keren. Namun pada akhir cerita berhasil membuat gue membenci sebenci-bencinya dengan tokoh tersebut. Siapa itu? :)

Klimaks cerita dimulai ketika para mahasiswa KKNM ini lagi kemping di hutan dekat sungai di desa itu. Adegan-adegan mengerikan dimulai dari situ, dan tak henti-hentinya membuat gue terbelalak sendiri, dan berkata "OH YA AMPUN", "ANJRIT", "ASTAGA", "JADI TERNYATA......", "OH IYA!", sambil melotot ke novel tanpa bersuara, saking terkejutnya, saking unpredictable-nya. Semua rahasia, misteri, terkuak di akhir cerita, yang sama sekali ga gue sangka. Adegan-adegan thriller juga tak henti-hentinya, ga ada istirahatnya, bikin deg-degan sendiri, dan bener-bener nyerang psikologi kita. Menurut gue buku ini ga cocok banget deh buat kamu-kamu yang lemah hiiiiiiii....

Gak mungkin dalam novel psychothriller ga ada tokoh yang mati. Agak kecewa karena tokoh-tokoh favorit gue pada mati huhuhuhuhu.

Penggunaan sudut pandang orang pertama tetapi dari awal sampai menuju akhir tidak diketahui siapa itu tokoh "saya" yang bercerita di dalam novel ini. Itu selalu menjadi pertanyaan tersendiri ketika gue lagi baca. Sambil baca, sambil mikir juga, siapa sih si "saya" ini? Terlihat terlibat, terlihat dikenal oleh para kelompok mahasiswa ini tetapi tidak pernah berdialog sedikitpun. Seperti lalu saya berkata, "blablablabla....". Kamu nggak akan pernah tau sampai kamu baca sendiri novelnya wuewue.

Awalnya gue juga agak aneh yah dengan penggunaan panggilan orang pertama dengan kata "saya" ketika berdialog dengan teman sebaya. Saya-kamu. Terlalu formal untuk mahasiswa masa kini. Tetapi setelah dilihat lagi, ini persis kayak di novel Perahu Kertas yang juga pake panggilan saya-kamu, yang sama-sama berlatar di Bandung. Mungkin pergaulan di Bandung emang begitu kali ya? Gue nggak tahu juga sih. Penggunaan kata gue-elo dalam berdialog hanya digunakan ketika tokoh lagi marah-marah atau lagi kesel atau emang wataknya yang ketus dan jutek.

Perwatakan semua tokoh sangat kuat. Bonie, Mada, Faye, Fabyan, Jiana, Nina, Lula, Arbil, Yanto, India dan Chamae. Tokoh-tokoh yang gue sebutkan tadi merupakan tokoh utama yang diceritakan di novel Seruak. Masing-masing tokoh diceritakan masa lalunya dan bagaimana wataknya, bahkan bagaimana mereka bisa berwatak seperti itu karena banyak unsur psikologi yang dijelaskan.

Kata-kata yang tepat untuk novel Seruak: brilian, exellent, unpredictable, and AWESOME! Buku ini wajip difilmin karena ceritanya nggak kayak film-film horor-thriller pada umumnya di Indonesia. Pasti laris, pasti keren karena plot ceritanya perfect banget. Dan buat kamu, sebelum difilmin, HARUS BACA! Ga nyesel! KEREN BANGEEETTT!!!!

Jadi begitulah, kesan gue terhadap novel Seruak karya Vinca Callista ini. Kalo mau kontak penulisnya bisa langsung mention aja ke twitternya @VincaCallista. Selamat membaca!


SINOPSIS
Mau tidak mau, Bonie harus berurusan dengan teman-teman barunya di Desa Angsawengi. Macam-macam pribadi, dari anak yang sangat menyenangkan sampai yang selalu menyebalkan, berinteraksi di rumah yang sama, karena kelompok mahasiswa ini sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata. Di kelompok anak muda ini hadir Arbil Radeagati----seorang aktor muda yang bermaksud melarikan diri dari tekanan keluarganya, penyakit yang menggerogoti jiwanya. Dan ada pula Mada Giorafsan, sahabat masa kecilnya yang mengetahui kenapa Bonie dari masa lalu yang gelap dan menjijikkan.

Pada awalnya, hubungan di antara kesebelas pribadi ini hanya seputar program kerja di desa serta perkembangan chemistry yang bercabang jadi persahabatan dan permusuhan. Namun, nyatanya Desa Angsawengi terlalu terkonsep. Ada orang-orang yang sengaja menakut-nakuti mereka, sistem kehidupan di sana lama-lama jadi mencekam jiwa Bonie dan kawan-kawan. Tidak ada remaja yang tinggal di sana, malah ada kawanan anjing besar yang sering kali muncul bersama anak kecil berkepala botak, ada pula pria misterius yang selalu mengganggu dengan mesin pemotong rumputnya. Anak-anak ini terus diteror oleh penguakan rahasia yang menggiring mereka ke misteri yang nyatanya melibatkan pribadi Bonie.

2 comments

  1. Pas awal baca nih novel, bingung juga...
    Ini tokoh saya sebenarnya siapa?
    Tapi saya nikmati saja lah, pelan-pelan dan tenang..

    ReplyDelete
  2. Dipertengahan cerita sempat bingung dengan tokoh Bonie dan Nina yang saling berkaitan, ternyata hanya terdiri dari satu tokoh yang mengalami kepribadian ganda. Mengenai tokoh "saya" bukankah itu Nina? Saya menyadarinya saat menuju akhir cerita.

    ReplyDelete

Instagram

magellanictivity. Theme by STS.