Saya Kamu Kotak


Melihat gambar di atas membuat saya teringat ketika saya belajar mewarnai saat saya duduk di bangku kanak-kanak.
Saat itu terdapat gambar seorang wanita mengenakan dress selutut, tas, sepatu, dsb. Saat itu saya ingin mewarnai sepatu dengan warna merah. Lalu guru TK saya melarangnya. Sepatu itu warna hitam, katanya. Lalu saya mengelak, “Tidak semua sepatu berwarna hitam, bu”. “Sepatu itu warna hitam. Coba lihat, sepatu ibu warnanya hitam, kan?”, argumen si ibu. Saya masih memprotes dan tetap menolak, “Di rumahku ada sepatu warna biru dan cokelat, abu-abu juga ada”. Guru saya tetap bersikeras bahwa sepatu harus berwarna hitam, tidak boleh menggunakan warna lain. Tapi saya terus memprotes dan memprotes, saya tetap kekeuh menggunakan warna merah. Tidak peduli dengan omongan guru saya.
Dari pengalaman saya di atas, bisa dilihat, itu adalah bukti bahwa sejak kecil kita terlalu dikekang dan dituntut harus sama dengan pemikiran guru. Untuk berekspresi dan berkreasi saja dibatasi. Padahal hanya soal warna, yang jumlahnya ada jutaan di dunia ini. Tidak boleh memilih warna lain selain hitam.
Itu sebabnya Indonesia tidak seperti Eropa dan Jepang, yang diberi kebebasan dalam berkarya. Semuanya harus mengikuti aturan yang ada. Aturan boleh saja dibuat, tetapi mengapa harus membuat kreativitas terbatas? Hal itu pula penyebab mengapa orang-orang kreatif dari Indonesia lebih memilih bekerja di luar negeri. Bahkan ada seseorang asal Indonesia (saya lupa namanya) bekerja di Weta Workshop, sebuah studio animasi asal Selandia Baru yang mengerjakan animasi-animasi untuk film The Hobbitdan Tin Tin The Adventure. Di sana dia bebas dan dihargai. Di sini tidak ada yang mau membiayai kreasi dan mengapresiasi karya yang dibuat oleh anak bangsa. Kebanyakan para petinggi memusingkan urusan politik. Mementingkan kampanye sana-sini, membuat program basi yang lebih sering bullshit daripada bukti.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Post a Comment

Instagram

magellanictivity. Theme by STS.